Minggu, 06 November 2016

Komponen Digital Cinema



Assalamu’alaikum WR. WB., hai para bloger pada postingan saya kemarin saya sudah membahas tentang perkembangan digital cinema dan pada postingan kali ini saya akan membahas mengenai komponen digital cinema.

Seorang stutradara film, George Lucas mengatakan bahwa perkembangan film dibuat dan berkembang pada abad ke-19 yang dimulai dengan menggunakan pita seluloid untuk menangkap dan merekan gambar yang telah di ambil mengunakan kamera. Selanjutnya pada akhir abad ke-19 hingga akhir abad ke-20 mulailah ditemukannya pengganti pita seluloid untuk menampilkan cara penggarapan suatu film yaitu menggunkan cinema digital. Cinema digital pada dasarnya menggunakan suatu teknologi digital untuk mendistribusikan dan menayangkan gambar bergerak. Sebuah film dapat didistribusikan lewat perangkat keras (hardware), piringan optik ataupn menggunkana satelit serta ditayangkan menggunakan proyektor digital dan bukan menggunkan proyektor film monvensional. Cinema digital tidak bergantung pada penggunaan televisi atau standart HDTV, aspek rasio atau peringkat bingkai. Cinema digital dapat dibuat dengan media video untuk penayangannya dilakukan transfer dari format 35 milimeter(mm) ke format high definition (HD). Setelah menjadi format HD melalui proses cetak, penayangan film digunkan dari satu tempat saja, dan dioperasikan ke bioskop lain dengan menggunkan satelit, sehingga tidak perlu menggunakan salinan film agar tidak terjadinya pembocoran suatu film yang bisa di ambil  dengan cara di download atau semacamnya.
Pada tanggal 23-29 Oktober 1998, The Last Broadcast menjadi film terakhir yang menggunakan pita seluloid  dan di proyeksikan dengan DLP proyektor. Film yang pertama kali menggunakan teknologi digital cinema adalah film Star Wars dan diproyeksikan digital di cinema-cinema, dipimpin oleh cinecom Digital Cinema. Baru-baru ini, dengan meningkatnya minat 3D, ulang kelahiran ulang kelahiran revolusi “yang masih lahir” digital telah terjadi dalam skala kecil. Chicken Little dari Disney, dengan rilis eksperimen dari film di 3D digital, dapat menyebabkan pertumbuhan dasar proyeksi, dalam format 2K. Beberapa film 3D digital akan muncul pada tahun 2006 untuk menguji konsep tersebut lebih lanjut.

1.     Kamera digital sinema
Pada pembuatan film, tidak mungkin menggunakan kamera digital biasa. Kamera untuk pembuatan film umumnya memilikifitur ditayangkan secara digital adalah pita film 35 mm yang dipindai dan diproses pada resolusi 2K  (2048x1080) atau 4K (4096x2160) lewat penenngah digitial. Kebanyakan fitur digital saat ini sudah bisa merekam pada resolusi kurang lebih 1920x1080 menggunakan kamera digital, seperti Sony CineAlta, Panavision Genesis atau Thomson Viper. Kamera-kamera tersebut bisa menangkap gambar dengan resolusi 2K atau bahkan 4K. Selain itu ada jenis kamera lain yang bahkan bisa menagkap gambar dengan resolusi 4K RAW bahkan sampai 5K RAW, dengan nama kamera tersebut adalah RED EPIC.



2.    Proyektor digital cinema
Proyektor, dulunya hanya digunakan untuk keperluan presentasi atau dalam perkuliahan juga. Namun perkembangan selanjutnya proyektor menjadi sarana hiburan bahkan menjadi salah satu perangkat dari bioskop rumahan (home Cinema). Pada masa sekarang ini, terutama bioskop sudah memakai Proyektor Barco, ini cukup asing ditelinga kita, berbeda dengan proyektor NEC sebelumnya. Proyektor Barco DP2K-32B ini memiliki resolusi 4096 x 2160 piksel, resolusi ini termasuk proyektor 4K. Untuk tingkat kecerahan yang dimiliki proyektor Barco ini sama seperti proyektor NEC sebelumnya yaitu 33.000 ANSI lumens, namun rasio kontrasnya lebih kecil 2000:1. Proyektor bioskop ini mempunyai berat 141 kg dengan dimensi berukuran 604 x 754 x 1129 mm. Dimensi dari proyektor ini lebih besar dan berat dari proyetor sebelumnya. Perusahaan Barco ini memang banyak mengeluarkan proyektor 2K dan 4K, yang dipergunakan untuk pemutaran gambar dilayar lebar seperti bioskop.




Tidak ada komentar:

Posting Komentar